Warga Perumahan Tytyan Kencana Ciptakan Mesin Pemusnah Sampah

TPS3R plus mesin pemusnah sampah berteknologi Incinerator milik warga RT 12 RW06, Perumahan Tytyan Kencana, Bekasi.

TPS3R plus mesin pemusnah sampah berteknologi Incinerator milik warga RT 12 RW06, Perumahan Tytyan Kencana, Bekasi.

Sampai saat ini sampah masih menjadi masalah yang sulit dituntaskan terlebih di kawasan perkotaan seperti di Bekasi.

Pemerintah setempat hingga saat ini masih mengandalkan tempat pembuangan akhir (TPA) sebagai cara pengolahan sampah.

Namun upaya untuk mengurangi sampah dari sumbernya belum dapat dilakukan lantaran terkendala kesadaran masyarakat yang masih minim untuk mengurangi atau memilah sampah.

Dampak yang ditimbulkan saat ini adalah sampah yang dibuang ke TPAkian lama kian menumpuk hingga menggunung.

Rencana pengolahan sampah dengan menerapkan teknologi ramah lingkungan pun belum dapat direalisasikan.

Namun berbeda dengan warga RT 12,RW06,Perumahan Tytyan Kencana,Kelurahan Margamulya, Kecamatan Bekasi Utara, Kota Bekasi.

Warga secara swadaya mampu menciptakan mesin incinerator yang mampu memusnahkan sampah melalui proses pembakaran.

Joko Susilo (57), warga RT 12, sekaligus perancang mesin pemusnah sampah itu mengatakan,ide awal penerapan pengolahan sampah secara mandiri ini muncul ketika ia dan warga sepakat untuk membuat tempat pengolahan sampah pada 2013 silam.

“Waktu itu warga sepakat untuk pengolah sampahnya sendiri sampai selesai (musnah),terus dari situ kita rapat,ngobrol-ngobrol dan tercetus ide untuk membuat mesin incinerator,” kata Joko,Jumat, (29/3/2019).

Pertama kali mengembangkan mesin pemusnah sampah dengan teknologi incinerator,kapasitas yang dapat dilakukan untuk memusnahkan sampah hanya sebatas 50 kilogram per jam.

Lalu menjelang tahun 2016,Joko kembali mengembangkan mesin incinerator-nya dengan kapasitas pemusnahan sampah mencapai 150 kilogram per jam.

Pada 2018, pengembangan mesin pengolahan sampahnya dilirik Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Warga RT 12 kemudian mendapatkan dana bantuan dari Dinas PUPR Provinsi Jawa Barat sebesar Rp 500 juta untuk membangun Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R (Reduce, Reuse, Recycle).

“Sebenernya di juknis (petunjuk teknis) TPS 3R itu enggak ada pakai mesin incinerator, tapi karena kita sudah biasa local wisdom RT 12 memusnahkan sampah pakai incinerator ya jadi kita kombinasi TPS 3R plus Incinerator,” jelas dia.

Mesin pemusnah sampah dengan menggunakan teknologi incinerator yang saat ini beroperasi kata Joko, merupakan pengembangan ketiga, dimana ia menambahkan teknologi wet scrubber atau tirai air.

Teknologi wet scrubber ini memungkinkan emisi gas buang yang dihasilkan dari proses pembakaran masih di bawah ambang batas yang ditetapkan sehingga aman bagi lingkungan sekitar.

“Kita jamin emisi gas buang yang dihasilkan di bawah ambang batas karena asap dan debu yang keluar itu kita saring menggunakan air agar tidak terbang ke udara bersama asap, dia jatuh ke tangki penampungan dan mengendap,” jelas dia.

Untuk komponen mesin pemusnah sampah milik warga RT 12 meliputi kabin pembakaran dengan diameter 1,2 meter dan tinggi 3 meter, cerobong asap berdiameter 30 centimeter dan tinggi 10 meter serta komponen wet scrubber dengan diameter 60 centimeter dan tinggi 4 meter.

“Untuk membangun mesin ini kita menghabiskan dana sekitar Rp 150 juta itu swadaya dari masyarakat,kalau yang bantuan dari Pempriv Jabar itu uangnya kita gunakan untuk membangun gedung TPS, gerobak, alat press limbah yang masih punya nilai ekonomis sama buat operasional aja,” jelas dia.

Untuk sistem kerja mesin pemusnah sampah,Joko mengajak warga untuk berperan aktif, sampah dari rumah warga diantar langsung ke TPS 3R, lalu ketikan sudah terkumpul, setiap pagi petugas akan melakukan proses pemusnahan.

Sampah-sampah terlebuh dahulu dipilah untuk memisahkan sampah yang masih memiliki nilai ekonomis seperti botol plastik,kardus dan sebagainya.

Ketikan sampah sudah terpisah, petugas lalu mememasukkan sampah ke dalam kabin pembakaran mesin pemusnah sampah. Terdapat tiga lapis dalam kabin mesin incinerator, lapisan paling atas adalah tempat meletakkan sampah yang akan dimusnahkan.

Lalu lapisan tengah adalah tempat tungku sampah kering seperti kayu ranting atau kertas sebagai pemantik proses pembakaran sampah.

Sedangkan untuk lapisan ketiga, adalah tempat penampungan abu hasil pembakaran sampah.

“Proses pembakaran dengan mesin ini dapat menghasilkan panas dengan suhu 800 derajat celcius,” paparnya.

Selama satu jam, 150 kilogram sampah akan musnah, dari proses itu juga mesin akan menghasilkan asap yang masuk ke dalam ruang wet scrubber.

Di ruang wet scrubber, asap yang mengandung partikel debu kering akan diubah menjadi basah,debu yang bercampur air itu dialirkan ke tempat penampungan hingga mengendap.

“Endapan dari hasil pembakaran ini bisa digunakan sebagai bahan membuat batako,begitu juga dengan bahan sisa debu hasil pembakaran sampahnya,tapi saat ini kita masih manfaatkan debu hasil pembakaran sebagai bahan untuk mengurug tanah,” jelas dia.

Sejak Januari 2019,warga RT 12, RW 06, Perumahan Tytyan Kencana, tidak lagi bergantung pada tempat pembuangan akhir sampah. Sampahdi lingkungan setempat benar-benar habis dimusnahkan dengan kehadiran TPS3R plus Incinerator.

Tribun jakarta

You may also like...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.