Tokoh Perintis Kamus Dialek Bekasi

DR. H Abdul Khoir Hs, MPd

DR. H Abdul Khoir Hs, MPd


BAHASA dan dialek asli Bekasi kian terdesak perkembangan zaman. Banyak yang prihatin, tapi hanya sedikit yang peduli. Salah satu tokoh yang peduli,yaitu DR. H Abdul Khoir Hs, MPd yang kemudian bersama sejumlah rekan menyusun kamus dialek bahasa Bekasi.

Keprihatinan ancaman kepunahan inilah yang sering menjadi keprihatinan banyak orang,termasuk warga Bekasi Asli. Apalagi, ragam kosa kata bahasa Bekasi ini memiliki keunikan tersendiri.

Coba kita dengar,kata ‘gak danta’, ‘awang’, ‘ora keduman’, ‘bagen’, ‘nanan’ dan lainnya. Dengan intonasi yang khas (dialek), bocah Bekasi sangat fasih melafalkan kosa kata ini. Dan ini,kian jarang terdengar meski di Bekasi.

“Semua bahasa memiliki ancaman kepunahan,tetapi kita harus melakukan sesuatu agar manfaat,”kata Dr. H. Abdul Khoir HS, MPd, ‘bocah’ Bekasi.

Doktor asli kelahiran Bekasi yang kini menjadi pengajar di Fakultas Agama Islam Unisma 45 Bekasi ini merintis kamus Dialek Bekasi,dan kemudian dilanjutkan dengan menyusun dialek khas warga Bekasi pada 2002 lalu.

Bersama dengan sejumlah tokoh Bekasi dan rekan-rekan seperjuangan di KAPEMASI, maka disusun Kamus Dialek Bekasi pada 2002. Roh awal keinginan ini adalah untuk menjaga dan sekaligus mengembangkan Bahasa Betawi yang berkembang di Bekasi.

Bahasa yang sering dituturkan oleh orang-orang Bekasi memang terpengaruh oleh bahasa Sunda,tuturan Jawa Tengah, dan sedikit logat Betawi. Kamus dialek ini bahkan kemudian diajukan ke Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk dibukukan.

Dengan menggandeng juga organisasi kemasyarakatan BKMB Bhagasasi, maka Pemkab Bekasi membantu dalam pencetakan. Bahkan, kamus dialek Bekasi ini juga dijadikan referensi pelajaran di sekolah.

Kamus kumpulan bahasa bekasi

Kamus kumpulan bahasa bekasi

RESPON POSITIF

Sejumlah tokoh yang ikut merumuskan dan menyusun di antaranya Damanhuri Hussein,H Muhtadi Mukhtar,Bambang Widyatmoko,Darma Priatna,Bang Andi Sopandi,dan lainnya.

Penyusunan Kamus Dialek Bekasi ini diakui juga merujuk dari Kamus Dialek Jakarta yang disusun oleh Abdul Chaer pada tahun 1982. Bahkan,sebelum diterbitkan Buku Kamus Dialek Bekasi, Abdul Chaer penyusun Kamus Dialek Jakarta,menyambut positif. Bahkan, rekomendasi dari Pusat Bahasa Jakarta juga didapatkan.

“Tahun 2003 terbitlah buku tersebut. Dan sambutannya luar biasa,”katanya.

Respon positif dari masyarakat Bekasi, kritikan dan masukan diapresiasi. 
Sehingga,beberapa kali penerbitan mengalami perubahan. Seperti,saran agar bahasa melayu Betawi yang sudah diserap ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia hendaknya dihilangkan.

Bekasi bahasa ibu yang berkembang masuk rumpun Bahasa Melayu Betawi. 
Bahasa dibagi menjadi Betawi Tengah dan Betawi Pinggir. Betawi Pinggir meliputi wilayah Bekasi,Depok dan Tangerang. Khusus di wilayah Bekasi terdapat istilah Betawi Ora.

“Istilah ‘Betawi Ora’ ini lebih disebabkan karena ada pengaruh Bahasa Cirebon yang dominan, khususnya di Bekasi Bagian Utara,”katanya.(poskota)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.