Tanaman Kuno bagi Masa Depan

Tanaman Sorgum

Tanaman Sorgum

SORGUM merupakan tanaman biji-bijian paling awal didomestifikasi manusia, tetapi lalu tergusur sumber pangan lain. Kini,sorgum kembali dicari karena memiliki banyak kelebihan dari segi daya tumbuh, rasa, maupun kandungan nutrisinya.

Berdasarkan data Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) tahun 2016, sorgum (Sorghum bicolor) menempati peringkat kelima sumber pangan dari biji-bijian terbanyak diproduksi secara global, setelah gandum, beras, jagung, dan jelay (barley). Amerika Serikat terbanyak memproduksi sorgum 12,1 juta ton per tahun, disusul Nigeria 6,9 juta ton, Sudan 6,4 juta ton, Meksiko 5 juta ton, Etiopia 4,7 juta ton, India 4,4 juta ton, Argentina 3 juta ton, China 2,4 juta ton, Nigeria 1,8 juta ton, dan Australia 1,7 juta ton.

Meski produksi sorgum secara global tinggi, konsumsinya terbatas di negara Afrika dan India. Di Amerika dan Australia, sorgum lebih banyak dipakai sebagai pakan ternak. Dalam daftar produsen sorgum global ini,nama Indonesia sama sekali tak disebut.

Sorgum nyaris tak dikenal lagi di Indonesia hingga baru-baru ini para petani di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kembali menanam dan mengonsumsinya. Sorgum bukan tanaman baru di Indonesia. ”Di Flores ada banyak nama lokal bagi sorgum. Itu membuktikan tanaman ini telah lama dikenal,” kata Maria Loretha, petani dan pemulia sorgum dari Adonara, Flores Timur.

Maria mengumpulkan tujuh jenis sorgum lokal di Flores. Sementara sorgum jenis baru dikenalkan di Flores ada 14 jenis. ’’Sorgum lokal banyak sekali, tapi yang jadi favorit petani tujuh jenis,” katanya.

Tak hanya di Flores,masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia pun telah lama mengenal sorgum dengan nama berbeda Contohnya,di Jawa Barat disebut gandrung dan di Jawa Tengah disebut cantel. Konon, cantel juga tertera dalam relief Borobudur yang menunjukkan tanaman itu dibudidayakan pada masa pembangunan candi itu dari abad ke-8.

Meski kini tersebar luas di dunia, mulai dari area tropis sampai subtropis, asal-usul sorgum diketahui dari Afrika. Tanaman ini diduga masuk ke Indonesia dibawa para pedagang India ratusan tahun lalu.

Salah satu kunci luasnya sebaran sorgum ialah kemampuannya tumbuh di aneka variasi lingkungan dan kondisi tanah. Sorgum bisa tumbuh di lahan tropis di Afrika sampai subtropis di Amerika. Dia juga bisa tumbuh di lahan marjinal dan tak butuh banyak pupuk dengan hama penyakit terbatas.

Dengan kemampuan ini, sorgum jadi harapan memenuhi kebutuhan pangan masa depan yang menghadapi tantangan tingginya pertambahan populasi dan perubahan iklim. Kajian Chuang Zhao dari Universitas Peking, China, dan tim dipublikasikan di jurnal PNAS (2017) menemukan, kenaikan suhu global 1 derajat celsius menurunkan produksi gandum 6 persen, padi 3,2 persen, jagung 7,4 persen, dan kedelai 3,1 persen.

Kajian David B Lobell dari Universitas Stanford, AS, dan tim dipublikasikan di jurnal Science (2008) menyebut, sorgum sebagai tanaman dengan kemampuan adaptasi tinggi pada perubahan iklim. Graeme Hammer dari Queensland Alliance for Agriculture and Food Innovation (2015) menyebut, kemampuan adaptasi sorgum pada perubahan iklim karena efisien menyerap air.

’’Saat level CO2 naik seiring perubahan iklim, beberapa tanaman jadi lebih efisien dalam memakai air,termasuk sorgum. Dia bisa memberi hasil sama meski menyerap air lebih sedikit,” kata Graeme.

’’Saat tanaman lain seperti padi dan jagung gagal, sorgum bisa tumbuh subur dan memberi hasil baik,” kata Kepala Desa Kawalelo, Kecamatan Demon Pagong, Kabupaten Flores Timur,Paulus Iki Kola Kawalelo memenuhi kebutuhan pangan dengan menanam dan mengonsumsi sorgum.

Sejak dikenalkan Maria Lo- reta empat tahun lalu, sorgum kini jadi tanaman pokok di Kawalelo. Luas lahan sorgum di kawasan ini 70 hektar (ha), 30 ha di antaranya ditanam di Dusun Likotuden yang dinobatkan sebagai ’’Kampung Sorgum”.

Bernutrisi tinggi

Keunggulan sorgum sebagai sumber pangan masa depan tak hanya pada kemampuan adaptasinya, tetapi juga kandungan nutrisinya. Berdasarkan data Departemen Pertanian AS (USDA) tahun 2011,kandungan karbohidrat sorgum per 100 gram (gr) mencapai 74,63 gr, lebih tinggi dari gandum 71,97 gr. Kandungan karbohidrat ini urutan ketiga setelah padi (79,15 gr) dan jagung (76,85 gr).

Untuk protein, tiap 100 gram sorgum mengandung protein 11 gr, lebih tinggi dari beras 9 gr. Sorgum juga kaya serat dan antioksidan, sedangkan indeks gli- kemiknya lebih rendah daripada beras sehingga cocok dikonsumsi penderita diabetes.

Dengan kandungan ini, sorgum jadi tren baru di sejumlah restoran bergengsi di Barat, seperti diulas theguardian.com edisi 15 Desember 2015. ’’Lupakan milet, quioa, dan beras merah: kini ada biji-bijian baru di kota. Sorgum, tanaman kuno dari lahan kering di Afrika,menemukan tempatnya di berbagai restoran di Amerika Serikat,” tulis Tobe Danovich, kolumnis The Guardian.

Di Indonesia belum banyak restoran yang menyajikan sorgum. ’’Restoran kami menyajikan sorgum, jadi pilihan pengganti nasi, selain singkong dan pisang,” kata Ragil Wibowo,koki Restoran Nilsa Indonesian Gastronomy.

Selain disajikan langsung, tepung sorgum bisa diolah jadi beragam makanan.

’’Karena tepung ini tak punya gluten, sebagian orang mencampurnya dengan tepung terigu. Dengan campur tangan ahli teknologi pangan dan praktisi, saya yakjn tepung sorgum lebih cepat diterima masyarakat,” ujarnya.

Sorgum memiliki keunggulan untuk diolah sebagai makanan manis dan gurih. Seperti di Flores, biji sorgum biasa diolah jadi kolak, sereal, atau susu sorgum, selain ditanak langsung.

”Tak hanya biji, batang sorgum juga bisa diolah jadi gula cair, selain biasanya untuk pakan ternak,” ujar Maria Loreta, yang didukung Yayasan Keanekaragaman Hayati Indonesia dan Yayasan Pembangunan Sosial Ekonomi Larantuka, kini menyebarkan budidaya sorgum di sejumlah desa di Flores.

’’Pemerintah harus mengubah visi pangannya, jangan lagi terobsesi pada beras, apalagi memaksa mencetak sawah baru dengan menggusur tanaman pangan lain,” kata Maria.

Di lapangan kerap terjadi tabrakan antara program cetak sawah baru ini dan pengembangan sorgum. Contohnya, pada 2016, tanaman sorgum warga Desa Raminara, Manggarai Barat, seluas 20 hektar, siap panen, digusur alat berat tentara untuk dicetak sawah.

Belajar dari Desa Kawalelo yang berswasembada pangan dari sorgum, padahal sebelumnya bergantung pada bantuan beras subsidi, Maria Loreta meyakini tanaman ini bisa jadi solusi bagi Provinsi NTT yang kering. Sorgum pun bisa jadi jawaban untuk mewujudkan swasembada pangan nasional.

Sumberteleskop.id

You may also like...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.