Refleksi 7 Tahun Konflik Suriah: Haruskah Bassar Assad Dibiarkan Menang?

Bassar Assad

Bassar Assad

PERANG Suriah telah memasuki tahun ketujuh di bulan Maret 2018 ini. Dilaporkan lebih dari 500.000 jiwa terbunuh, sementara jutaan warga sipil lainnya terpaksa terlunta-lunta menjadi pengungsi di negeri orang.

Tak banyak kemajuan yang bisa saya dengar selain kemajuan deret-deret angka jumlah korban. Dan dari tahun ke tahun saya justru mendapati potret-potret yang semakin mengiris nurani dan mengguncang rasa kemanusiaan yang bersemayam di hati saya.

Masih lekat dalam ingatan saya pada tahun 2011 tentang kisah Hamzah Al-Khateeb,seorang bocah berusia 13 tahun yang meninggal akibat penyiksaan yang dilakukan oleh pemerintah Suriah. Ketika dikirim ke keluarganya,jenazah Hamzah dalam keadaan sangat parah dengan luka bakar, luka tembak,dan luka pada alat vitalnya.Keluarganya pun mengirimkan foto jenazahnya kepada para jurnalis dan aktivis, hingga pada akhirnya kematiannya memicu protes jalanan ribuan orang terhadap pemerintah

Tahun 2012 saya mulai akrab dengan apa yang disebut birmil,sebuah bom yang terbuat dari drum besar yang diisi sekitar 250 kg hingga 500 kg TNT dan dijatuhkan melalui pesawat ke pemukiman warga Suriah. Disinyalir hingga saat ini, bom birmil adalah penyumbang terbesar kerusakan, kehancuran,dan kematian di Suriah.

Lalu tahun 2013 saya mulai mendengar kabar bahwa Bashar Assad mulai menggunakan serangan kimia yang menyasar anak-anak tatkala mereka tengah tertidur di malam hari. Tahun berikutnya saya mulai akrab dengan potret anak-anak maupun balita yang terluka parah akibat tertimbun reruntuhan bangunan.

Tahun 2015 saya begitu mengingat gambar seorang Aylan Kurdi, anak usia tiga tahun yang jasadnya ditemukan telah terbujur kaku terdampar di tepi pantai kota wisata Badrum,Turki. Tahun berikutnya sosial media kita dipenuhi hastag #FrayAleppo ataupun #savealeppo,di mana foto Omran Daqneesh,seorang anak berusia lima tahun yang diselamatkan dari reruntuhan gedung dalam kondisi pelipis yang mengucurkan darah dan tubuh tertutup debu menjadi simbol kegilaan pasukan Assad di Aleppo.

Tahun 2017 potret-potret yang ditampilkan semakin mengiris nurani saya. Serangan biadab gas sarin di wilayah Khan Sheikhoun jelas-jelas membuat siapapun yang masih mempunyai nurani akan mempertanyakan sisa kemanusiaan dalam diri Assad. Tingkat kematian warga Suriah akibat kelaparan juga semakin menjadi-jadi di tahun ini. Jika di tahun-tahun sebelumnya saya hanya mendengar kabar anak-anak yang terpaksa menyantap semak belukar di musim dingin, di tahun ini saya melihat video seorang bayi yang meninggal karena kelaparan,dikabarkan dia mengalami kelaparan karena sang ibu juga terlalu lapar sehingga tak mampu lagi memberinya air susu.

Lalu tahun ini, baru menyentuh bulan kita sudah disuguhi kabar bahwa dampak dari begitu dahsyatnya serangan rezim Assad di Ghouta Timur, sampai-sampai warga Ghouta kehabisan kain kafan untuk menyalatkan jenazah warga yang terbunuh.

Intinya tahun demi tahun berlalu Suriah semakin kacau,perang semakin rumit untuk dimengerti, permasalahan semakin kompleks untuk dipahami. Beragam tanggapan pun muncul menanggapi hal tersebut,beragam opini mengenai apa yang seharusnya dilakukan mempunyai medan benturannya sendiri, yang tak kalah sengit dibanding perang yang sesungguhnya.

Salah satu opini yang paling konsisten; bahwa semua ini salah rakyat Suriah yang tidak mentaati pemimpin,mereka seharusnya lebih bersabar terhadap kematian Hamzah Al-Khateeb demi mencegah kemadharatan yang lebih besar. Kesimpulan lanjutannya adalah segala bentuk pemberontakan harus diakhiri, biarkan Bashar Assad mendapatkan ketenangannya kembali.

Tadinya saya berpikir bahwa itu hanyalah opini yang bersifat lokal,akibat kurang piknik atau kurang referensi saja. Tapi ternyata anggapan saya salah, sebutlah warga Qusair,sebuah kota di timur Suriah, diduga sudah sejak lama mereka menyerukan Presiden Suriah Bashar Assad untuk tetap berkuasa sebagai sarana membawa perdamaian ke Suriah. Suara mereka kini semakin kencang seiring kemenangan demi kemenangan pasukan sekutu Assad di Ghouta Timur.

Tidak hanya warga Qusair,ternyata orang bule pun ikut-ikutan. Sebut saja tulisan Danny Makki di opendemocracy yang menyatakan bahwa akhir permainan sudah jelas; Assad,Rusia,dan Iran akan menjadi pemenangnya.Begitupun komentar Max Boot di Washington Post, “Satu-satunya cara untuk menyelamatkan nyawa, dengan penuh kesedihan saya harus menyimpulkan,adalah dengan membiarkan Assad menang secepat mungkin.”

Namun tak semua pihak menganggap argumen tersebut masuk akal. Rifaie Tammas, seorang warga asli Qusair kandidat PhD di universitas Macquarie Sidney menuliskan pendapatnya di middleeasteye.Menurutnya ada tiga hal mendasar yang membuat kampanye sebagian besar warga kotanya adalah kampanye yang tidak masuk akal.

Pertama,fakta bahwa Assad telah menang secara militer tidaklah mengherankan. Dengan dukungan strategis dari Rusia dan Iran, strategi pemerintah Suriah terfokus pada pencapaian yang konsisten, namun relatif berskala kecil, selama tujuh tahun terakhir.

Ini termasuk merebut kembali Baba Amr, Qusair, Yabroud, pinggiran Old Homs, Aleppo, dan Deir Ezzour antara 2012 dan 2017. Dan Ghouta Timur yang menjadi target terkini dalam serangan rezim Assad yang telah menewaskan lebih dari 1.000 jiwa sejak 18 Februari lalu.

Memang benar bahwa kemenangan militer Assad adalah kenyataan di lapangan.Tetapi apakah itu berarti bahwa komunitas internasional harus menerima aturannya berdasarkan kekuatan militer? Apakah Suriah akan berubah menjadi contoh lain dari survival of the fittest, dimana hanya yang paling kuat, yang paling buas yang menang?

Bagi sebagian orang,jawabannya mungkin ya,karena bagaimanapun juga kekuatan militer adalah faktor penentu utama penyelesaian konflik.Namun akankah orang yang sama memuji Hitler dan menerima kampanye militernya yang tanpa henti di Eropa? Mengakui kekuatan militer Assad dapat dimengerti tetapi menggunakan itu sebagai landasan untuk menerima status quo bukanlah sesuatu yang wajar.

Kedua,hal ini juga berarti mengabaikan evolusi dan heterogenitas kelompok oposisi politik dan bersenjata. Kelompok oposisi Suriah telah mengalami perubahan signifikan dalam tujuh tahun terakhir, hal ini dapat dibuktikan dengan hilang dan munculnya aliansi-aliansi baru di antara kelompok oposisi.

Ketiga,harus disadari bahwa tidak ada jawaban yang mudah di Suriah. Satu kepastian adalah bahwa tidak ada resolusi stabil yang mungkin di bawah kepemimpinan Assad. Jika kekuasaannya pulih kembali, Assad tetap akan membuka jalan bagi campur tangan asing, dia akan menjaga kekerasan serta penderitaan tetap abadi. Karena demi mencegah terulangnya kekacauan,aparat keamanannya akan tetap melepaskan kengerian terhadap komunitas rentan. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa hal itu akan dilakukan dalam keheningan, di sel penjara Assad.

Yah,sebagaimana saya singgung di awal. Bahwa perdebatan mengenai apa yang seharusnya dilakukan untuk mengakhiri kekacauan di Suriah telah menciptakan perang narasi yang tak kalah dahsyat. Narasi masing-masing pihak dalam pertempuran ini juga mengalami pasang surut mengikuti kemajuan dan kemunduran yang dicapai masing-masing kelompok yang terlibat di medan peperangan sesungguhnya. 

Dan sayangnya,kepada narasi siapapun kita berpihak,ada satu kenyataan yang tak dapat disangkal.Bahwa setelah tujuh tahun berjalan,perang ternyata harus menemukan pemenangnya,karena masing-masing pihak yang terlibat perang telah berada pada titik “di mana tidak bisa kembali lagi”.(kiblatnet)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.