Pernyataan Sikap Dewan Pengurus Pusat Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (DPP PPMI) Dalam Mayday 2019

Bekasicityzen

Pernyataan Sikap Dewan Pengurus Pusat Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (DPP PPMI) Dalam Mayday 2019

DEWAN PENGURUS PUSAT
PERSUDARAAN PEKERJA MUSLIM INDONESIA
MENGENAI MAY DAY 2019

Loading...

Assalmu’alaikum warahmatullahiwabarakatuh,

Salam Perjuangan, Salam Pembebasan !
Dalam rangka peringatan May Day 2019 yang jatuh pada tanggal 1 Mei 2019, dimana sama kita ketahui bersama bahwa :

“Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei. Pada tanggal 4 Mei1886. Para Demonstran melakukan pawai besar-besaran.Polisi Amerika kemudian menembaki para demonstran tersebut sehingga ratusan orang tewas dan para pemimpinnya ditangkap kemudian dihukum mati, para buruh yang meninggal dikenal sebagai martir. Sebelum peristiwa 1 Mei itu, di berbagai negara, juga terjadi pemogokan-pemogokan buruh untuk menuntut perlakukan yang lebih adil dari para pemilik modal. Pada bulan Juli1889, Kongres Sosialis Dunia yang diselenggarakan di Paris menetapkan peristiwa di AS tanggal 1 Mei itu sebagai hari buruh sedunia dan mengeluarkan resolusi berisi:Sebuah aksi internasional besar harus diorganisir pada satu hari tertentu dimana semua negara dan kota-kota pada waktu yang bersamaan, pada satu hari yang disepakati bersama, semua buruh menuntut agar pemerintah secara legal mengurangi jam kerja menjadi 8 jam per hari, dan melaksanakan semua hasil Kongres Buruh Internasional Prancis.Resolusi ini mendapat sambutan yang hangat dari berbagai negara dan sejak tahun 1890, tanggal 1 Mei, yang diistilahkan dengan May Day, diperingati oleh kaum buruh di berbagai negara.”

Demikian sejarah May Day adalah sebuah perlawanan kelompok manusia yang dieksploitasi (terzolimi) oleh kelompok manusia lain untuk penguasaan harta sebesar-besarnya yang hari ini kita mengenalnya sebagai Kapitalisme. Sedangkan perlawanan tersebut hari ini kebanyakan orang mengenalnya sebagai gerakan Sosilisme.

Kapitalisme dan Sosialisme sampai hari ini terbukti sebagai sistem yang satu sama lain sangat bertentangan atau tidak sejalan, sehingga dengan menggunakan pendekatan dua sistem ini maka kita semua akan sulit mendapati keselarasan pikir dan tindak antara pengusaha dan pekerja (buruh). Disisi lain Negara Kesatuan Republik Indonesia yang lahir dari sebuah revolsi, para “founding father” NKRI berhasil merumuskan dan menyepakati sebuah tatanan kehidupan baru yaitu PANCASILA sebagai tata nilai yang tentunya wajib dilaksanakan dan diimplementasikan dalam Negara Kesatuan Republik Indoensia. Pancasila bukanlah Kapitalisme dan bukan pula Sosialisme, tetapi adalah sistem tersendiri yang dimana dalam Pancasila tersebut pada Sila Pertama berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa” mengisyaratkan bahwa Indonesia adalah negara yang secara etis dan moral yang luhur mengakui akan keberadaan Tuhan. Pengakuan akan ke-Maha hadiran Tuhan dalam denyut perjuangan negara, secara ekplisit tertuangdengan sangat nyata dalam pembukaan alinea ketiga, “Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa”, kemudian menjadi satu dari empat pokok pikiran dalam penjelasan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang secara sadar juga dinyatakan “Negara berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa” menurut dasar kemanusiaan yang adil dan beradab. Islam adalah sebuah agama yang diakui di Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka menjadi sebuah keniscayaan jika nilai-nilai Islam dapat dijadikan
sebagai inspirasi dalam menyusun sebuah konsep baru kehidupan hubungan industrial di negara yang sama kita cintai ini.
Islam sangat anti dengan kapitalisme dalam masalah perburuhan, sebab kapitalisme memandang buruh tak lebih dari sekedar “mesin pencetak uang” dengan keringatnya sebagai “bahan bakar”. Namun demikian, tak serta merta Islam identik dengan sosialisme,pada hal tertentu, seperti masalah pengupahan, Islam tetap mengenal “diskriminasi” berdasarkan skill dan profesionalisme si pekerja, dengan kata lain, tak ada prinsip “sama rasa, sama rata” untuk masalah upah di dalam Islam.
Maka dengan demikian, menjadi sebuah keniscayaan akan terwujudnya HUBUNGAN HARMONIS antara Pengusaha dan Pekerja jika Hubungan Indistrial Pancasila dilandasi dengan nilai-nilai kebangsaan yang diilhami Tata Nilai Islam, bukan diilhami oleh Tata Nilai Kapitalisme atau Tata Nilai Sosialisme.

Untuk itu kami sebagai Dewan Pengurus Pusat Serikat Pekerja Persaudraan Pekerja Muslim Indonesia bersama ini menyampaikan pandangan dan himbauan serta seruan kepada anggota PPMI, Pekerja Indonesia pada umumnya dan Pengusaha Indonesia serta Pemerintah Indonesia sebagai berikut :
1.Menyerukan kepada Pekerja Indonesia khususunya Anggota PPMI agar selalu meningkatkan etos kerja, amanah dan meningkatkan profesionalisme yang mengarah pada peningkatan produktifitas.

2.Menghimbau Pengusaha Indonesia agar memandang Pekerja sebagai Mitra bukan sebagai sekedar alat Produksi yang dapat diperlakukan dengan semena-mena tanpa memandang kebutuhan dan Hak Asasi Pekerja.

3.Mendesak Pemerintah agar selalu berdiri di tengah sebagai wasit yang adil antara Pengusaha dan Pekerja, negara selalu menjaga aturan main perburuhan dan melakukan upaya paksa bagi setiap pihak yang melanggar aturan tersebut.

4.Mendesak Pemerintah dan Legislatif untuk segera menyusun Undang-Undang khusus tentang kepemilikan saham oleh pekerja menjadi sebuah kewajiban bagi pengusaha.

5.Mendesak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk mengawasi dugaan praktik suap di Pengadilan Perselisihan Hubungan Industrial di Wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia

6.Mendesak Kepada Pemerintah pusat untuk segera menuntaskan masalah Upah Minimum Sektoral khususnya di Wilayah Provinsi Jawa Barat.

7.Mendesak Pemerintah untuk segera mencabut PP 78 Tahun 2015 Tentang Pengupahan beserta aturan turunannya yang jelas dan nyata sangat merugikan pekerja.

8.Menolak sistem kerja Kontrak, Outsourcing dan pemagangan yang berkedok Out Sourcing.

Demikian release ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, aamiin.

Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Jakarta, 1 Mei 2019

Muhammad Fabil, S.H. N o p i y a n d r i, S.E.
Presiden Sekretaris Jenderal

Loading...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Next Post

Mayday,10 Bus Angkut Massa Buruh GSBI Kota Bekasi

Giat momen peringatan hari buruh internasional (Mayday) pada 1 mei 2019 tak menyurutkan buruh untuk menggelar aksi unjuk rasa di jakarta. Meski di tahun politik yang cendrung panas bukan berarti buruh tak berani turun ke jalan. Hal tersebut di buktikan […]

Subscribe US Now