Pembaru Indonesia: Tetapkan Bencana Di Lombok Sebagai Bencana Nasional

Pembaru Indonesia Lakukan

Gempa bumi terus memporak-porandakan provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB), terutama pulau Lombok. Setelah gempa besar dengan kekuatan 7 Skala Richter (SR) pada 5 Agustus 2018, gempa susulan dengan kekuatan besar beberapa kali terjadi, terakhir pada Minggu 19 Agustus 2018. Dengan kekuatan 6,9 Skala Richter (SR), paska itu gempa susulan terus terjadi termasuk empat gempa dengan kekuatan antara 5 hingga 5,6 SR yang semuanya terjadi pada hari yang sama.

Sebelumnya,akibat gempa besar pada 5 Agustus, sampai sekarang kehidupan di Lombok masih dalam keadaan memprihatinkan. Warga masih tersebar dalam ribuan titik pengungsian, dengan jumlah pengungsi diperkirakan mencapai lebih dari 417 ribu jiwa.

Jumlah korban yang sudah teridentifikasi adalah 548 korban meninggal,kemudian sekitar 7.773 menderita luka-luka. Angka tersebut diperkirakan akan terus bertambah karena tim SAR dan relawan masih terus mencari di reruntuhan bangunan dan timbunan longsor. Puluhan ribu bangunan mengalami kerusakan yang tersebar diberbagai kota dan kabupaten di Lombok, bahkan di Kabupaten Lombok Utara (KLU) kerusakan menimpa lebih dari 75 persen dari bangunan.

Solidaritas untuk korban gempa dan rakyat di Lombok terus berdatangan dari berbagai pihak,termasuk dari organisasi-organisasi rakyat yang dengan sigap melakukan aktivitas penggalangan solidaritas maupun langsung terjun sebagai relawan. Termasuk beberapa organisasi massa demokratis nasional yang melakukan berbagai aktivitas untuk penggalangan solidaritas Lombok. Selain itu relawan juga banyak yang berasal dari Lombok, meskipun mereka merupakan bagian dari korban dan organisasi yang terdampak secara langsung akibat gempa bumi.

PEMBARU Indonesia merupakan salah satu organisasi yang terdampak akibat gempa di Lombok. Keanggotaan PEMBARU tersebar di berbagai kota dan kabupaten di Lombok seperti di kota Mataram, Lombok Tengah maupun Lombok Timur. Namun demikian PEMBARU Indonesia,selain menyampaikan keprihatinan yang mendalam bagi segenap rakyat di Lombok juga mengajak semua elemen untuk bersolidaritas dan saling bantu dengan segenap kemampuan.

Di tengah kondisi gempa susulan yang terus terjadi,kemudian korban jiwa dan harta yang cukup besar Gubernur NTB  justru mengeluarkan rilis yang menyatakan keadaan yang baik-baik saja serta situasi aman untuk pariwisata. Sehingga wisatawan diajak untuk kembali berwisata di Lombok. Kebijakan tersebut sungguh tidak mempertimbangkan aspek resiko dan keadaan sosial di Lombok sendiri. 

Padahal sampai saat ini pelayanan sosial dan penanganan terhadap korban gempa di Lombok masih sangat terbatas.
Beberapa posko pengungsian masih belum mendapatkan bantuan yang semestinya. Penerangan dan air bersih masih sangat terbatas, demikian juga pelayanan kesehatan bagi korban gempa. Keadaan tersebut dipastikan akan bertambah mencekam dengan adanya gempa-gempa susulan yang berkekuatan besar seperti yang terjadi pada hari minggu kemarin.

Tuntutan agar Gempa di Lombok sebagai bencana nasional kemudian menguat seiring agar proses penanganan terhadap korban menjadi lebih cepat dan melibatkan banyak pihak. Berbagai pihak mulai dari institusi pemerintahan daerah, pusat hingga rakyat dan korban bencana menuntut agar Lombok dinaikan statusnya menjadi bencana nasional. 
Pemerintah sendiri belum menetapkan sebagai bencana nasional dengan berbagai alasan, seperti kemampuan pemerintah daerah hingga status Lombok sebagai salah satu pusat pariwisata Indonesia, meskipun saat ini skala kerusakan dan korban jiwa cukup besar.

Total kebutuhan rekonstruksi diestimasi lebih dari Rp 5,04 triliun,sedangkan Anggaran Pendapatan dan Belanja (APBD) NTB tahun 2018 hanya sebesar Rp5,2 triliun. Sehingga pemerintah daerah NTB pasti mengalami kesulitan untuk melakukan penanganan hingga rekonstruksi paska bencana. Penetapan status bencana nasional juga akan mempercepat proses bantuan dari APBN dan keterlibatan berbagai pihak dalam membantu korban bencana di Lombok. 
Sehingga sebetulnya sudah tidak ada alasan apapun dari pemerintah untuk segera menetapkan Lombok sebagai kategori bencana nasional.

Melihat keadaan tersebut maka kami dari PEMBARU Indonesia menuntut : 

“Tetapkan Bencana Gempa di Lombok Sebagai Bencana Nasional”
Selain itu PEMBARU Indonesia juga menyatakan :
1. Solidaritas dan Simpati yang sedalam-dalamnya untuk semua rakyat dan korban gempa di Lombok

2. Salut dan terima kasih setinggi-tingginya kepada relawan dan seluruh pihak yang telah membantu dan bersolidaritas untuk membantu meringankan beban korban gempa. Termasuk seluruh anggota PEMBARU Indonesia di Lombok yang dengan tabah terus melakukan pelayanan terhadap rakyat.

3. Mengajak semua elemen rakyat untuk bersolidaritas dengan segenap kemampuan untuk membantu saudara-saudara kita di Lombok

4. Mengajak seluruh pemuda untuk bersama-sama secara aktif membantu dengan segenap kemampuan, termasuk menggalang bantuan untuk disumbangkan ke korban di Lombok.

Jakarta 20 Agustus 2018

Komite Nasional PEMBARU Indonesia

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: