Mohammad Natsir: Islam sebagai Agama Pendidik

Mohammad Natsir
Mohammad Natsir

kedudukan ilmu dalam Islam, menuntut ilmu menjadi sesuatu bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan. Ia merupakan jalan untuk individu masuk kebaikan. Mohammad Natsir Perdana Mentri Pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang juga pernah menjabat sebagai ketua Masyumi di masa Orde Lama sampai mengistilahkan Islam sebagai “agama pendidik”.

“Jikalau satu agama yang begini hakikatnya masih belum bisa dinamakan agama sekolah atau pencerdasan manusia, maka kita harus bertanya: Apa yang salah dari dinamai“ agama pendidik bangsa-bangsa? ”Lantaran kita tidak tahu dan ingin tahu! Hanya kita tahu ada satu agama yang ada di antara mereka kitab-kitab sucinya, termasuk beberapa ayat yang menerangkan bahwa semua kejayaan dunia itu tidak lain dari barang-barang kosong yang tidak berarti belaka, anitas vanitatum, katanya.

Loading...

Dan yang pengikut-pengikutnya atas nama agama yang pernah membunuh seorang Hypatia lantaran berani membuat akalnya memperdalam ilmu pengetahuan, dan pernah membunuh seorang Galileo Galilei,lantaran berani mengatakan bahwa bumi berputar. Entahlah yang yang tepat dinamakan, agama pendidik bagsa-bangsa. (Mohammad Natsir, Islam dan Akal Merdeka , Sega Arsy: Bandung, 2015, hlm.25)

Natsir yang menerangkan akan hakikat agama Islam yang dianut oleh dasarnya masyarakat Indonesia,merupakan satu agama rasional, agama yang memberikan pendidikan bagi manusia dengan menggunakan potensi akalnya untuk belajar dan berpikir, serta mendorong pengetahuan untuk memberi manfaat kepada manusia dalam mendapatkan manfaat-kebebasan bagi kehidupannya.

Berbeda dengan agama bagi Barat -Kristen- yang pada abad pertengahan telah menutup pintu ilmu pengetahuan, karena mengganggap ilmu pengetahuan tidak memiliki keterkaitan dan bertentangan dengan doktrin Gereja, dan juga dunia tidak memiliki arti terhadap agama. Banyak dari antara para ilmuan Barat yang harus melakukan pertemuan dengan pemuka agama Kristen dan mendapatkan jawaban dari Dewan Inquisi, hingga membunuh tokoh-tokoh ilmuan Barat seperti Galileo Galilei, pencetus teori heliosentris.

Islam adalah agama yang sangat khusus dan memuliakan ilmu, yang dikisahkan oleh Natsir umum yang pernah dilakukan pada masa Rasulullah bahwa untuk para tahanan perang yang tersandera oleh orang Islam, maka untuk menebusnya tidak hanya dengan harta, tetapi dengan itu. untuk generasi kaum muslimin, dengan cara mengajari mereka untuk dapat membaca dan menulis.

“… Bukan sekolah kecuali tawanan itu, ditaklukkan” dengan mata pedang, dan mereka disuruh mengajar anak-anak Islam menulis dan membaca. Pelajaran membaca dan menulis bahwa uang tebusan mereka. (Mohammad Natsir, Islam dan Akal Merdeka , Sega Arsy: Bandung, 2015, hlm.25)

Mohammad Natsir yang memiliki peran penting dalam memobilisasi penyatuan Indonesia pasca pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS), yang membagi Indonesia menjadi 15 negara bagian “buatan” Belanda. Melalui “Mosi Integral Natsir” yaitu gagasan dan lobilisasi Natsir kepada para tokoh-tokoh nasional, membuka jalan kesepakatan dan persatuan terbentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) pada 19 Mei 1950. Ia tidak hanya terkenal sebagai politisi, namun Natsir juga besar dan terlibat langsung dalam bidang pendidikan, khususnya melalui sekolah Pendis “Pendidikan Islam” yang pernah didirikannya di Bandung pada tahun 1930.

Meskipun besar dan terdidik dalam sekolah didikan Belanda dari jenjang HIS (Hollandsch Inlansche School ), MULO ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs ) hingga AMS ( Algememeene Middelbare School ) dengan prestasi yang mempelajarinya hingga lulus sekolah Belanda. Namun Natsir lebih terpana dan terbangkitkan dari pendidikan agama Islam, yang juga dialami oleh banyak tokoh dan masyarakat pribumi lainnya.

Natsir menundukkan masyarakat masyarakat pribumi ditengah kolonialisasi Belanda yang mempublikasikannya, dan penuturan dari Prof. Snouck Hurgonje salah satu tokoh orientalis Belanda yang menjadi tokoh utama di masa politik etis Hindia Belanda di Nusantara, melalui pidatonya sebagai guru besar di Universitas Leiden Belanda tahun 1907;

“Demikianlah,seorang anak laki-laki anak 14 tahun, anak dari seorang ulama, yang tertawan oleh lascar kita (laskar Belanda), fakta hafal luar kepala gramatika bahasa yang disyiirkan dalam 1000 baris… Dan beberapa kali telah kejadian, penduduk negeri; yang tengah berburu diri, dikejar oleh pasukan kita, kabur beberapa kitab. Di sinilah hal, bagaimana ulama-ulama dalam perjalanan mereka mengembara melalui hutan-hutan dan rawa-rawa, tidak lepas pembacaan dan penyelidikan ilmu. (Mohammad Natsir, Islam dan Akal Merdeka , Sega Arsy: Bandung, 2015, hlm.29)

Dikisahkan oleh Prof Snouck Hurgonje, meskipun masyarakat pribumi yang saat ini sedang dalam situasi terdesak di medan perang, namun semangat mereka untuk belajar tidak padam dalam keadaan perang dan tertawan. Semangat perjuangan kemerdekaan mereka, dibarengi semangat dalam menuntut ilmu yang juga akan memerdekakan mereka dari kebodohan dan ketertinggalanya.

Sebuah karya yang menghafal 1000 baris gramatika bahasa Arab, atau yang diperingkat adalah menghafal kitab Alfiah karangan Imam Ibnu Malik, yang sejak dulu menjadi saat ini menjadi Pelajaran penting di Indonesia dan berbagai belahan dunia.

Banyaknya kitab-kitab atau kitab yang bisa ditulis dan dibaca oleh tokoh-tokoh Islam ditengah gencatan hidup mereka. Islam sebagai agama pendidik, telah memberikan pelajaran kepada kita tentang keluhuran menuntut ilmu dan mendidik manusia, yang tidak dihalangi oleh berbagai negara dan latar belakang.(hidayatullah)

Loading...
Author Image
Bekasicityzen

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.