Ming. Okt 20th, 2019

Melihat Penyebab Inflasi Super Tinggi Di Venezuela

2 min read
Unjuk Rasa Di Venezuela
Unjuk Rasa Di Venezuela

Dalam beberapa waktu terakhir Venzuela menjadi sorotan di seluruh dunia. Bagaimana tidak, negara tersebut sempat menjadi negara kaya, yang memperoleh kemakmuran dari minyak.

Namun, dalam waktu sekejap, semua itu sirna sejalan dengan anjloknya harga minyak dunia. Dalam waktu empat tahun berturut-turut, ekonomi Venezuela terkontraksi dan inflasi melambung tinggi.
Majelis Nasional yang dipimpin partai oposisi mengumumkan bahwa inflasi Venezuela mencapai 2.616 persen pada tahun 2017 dan pada Desember 2017 saja melonjak 85 persen.

Loading...

Mengutip The Economist, Kamis (8/2/2018), banyak ekonom dan bankir bank sentral menyebut kondisi inflasi yang dialami Venezuela sebagai hiperinflasi. Istilah ini biasanya digunakan untuk mendeskripsikan kondisi di mana harga konsumen naik setidaknya 50 persen dalam sebulan.

Dana Moneter Internasional (IMF) memproyeksikan inflasi Venezuela mencapai sekitar 13.000 persen pada tahun 2018. Lalu,apa sebenarnya penyebab kondisi inflasi yang mencengangkan yang terjadi di Venezuela tersebut?

Rendahnya harga minyak, menurunnya produksi minyak, serta kesalahan pengelolaan ekonomi secara umum telah membebani pemerintah Venezuela. Defisit anggaran negara tersebut mencapai 20 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Nilai tukar mata uang bolivar juga merosot tajam. Pada tahun lalu, uang kertas dengan denominasi tertinggi pun dinaikkan menjadi 100.000 bolivar.

Di pasar gelap, nilai tukar bolivar melemah 99,6 persen terhadap dollar AS sejak awal tahun 2016. Meski uang kertas baru telah dialirkan ke ekonomi secara deras, namun produksi barang domestik telah anjlok dan biaya impor dalam mata uang lokal meroker, kombinasi inilah yang membuat konsumen tidak bisa mengimbangi harga barang yang terus melesat naik.

Hiperinflasi dapat membuat hidup terasa sangat berat dan menjalankan bisnis tidak nyaman. Kondisi ini pun biasanya tidak bisa ditoleransi dalam jangka waktu lama, kerap berujung pada perubahan dalam pemerintahan atau setidaknya penerbitan kebijakan ekonomi baru.

Namun, Presiden Nicolas Maduro tampaknya tak bergeming dengan kondisi inflasi Venezuela yang kian mengkhawatirkan. Ia malah terus bertahan di tampuk pemerintahan, lebih lama dibandingkan yang dibayangkan banyak orang.

Dari beberapa episode hiperinflasi yang pernah terjadi di seluruh dunia, sekitar separuhnya berakhir dalam jangka waktu setahun. Selain itu, hanya sepersepuluhnya yang berlangsung selama lebih dari enam bulan.

Kasus hiperinflasi terlama yang pernah terjadi adalah di Nikaragua. Kala itu, kenaikan harga secara ekstrim terjadi selama hampir 5 tahun, yakni dari tahun 1986 sampai 1991.

Loading...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading...
Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.