Kota Bekasi Siaga Wabah DBD

Curah hujan yang tinggi membuat khawatir Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bekasi karena ancaman demam berdarah deangue (DBD) di wilayahnya. Bahkan,pemerintah daerah (pemda) memprediksi ancaman DBD itu bakal terus terjadi hingga Maret 2019.

”Musim hujan ini baru mulai, diperkirakan beberapa bulan ke depan hujan masih akan terus terjadi. Ancaman DBD pun diperkirakan jadi ancaman serius,” terang Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kota Bekasi Dezi Syukrawati,Kamis (31/1/2019).

Untuk itu,kata Dezi juga, pihaknya terus menggencarkan pola hidup bersih dan sehat (PBHS) serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Tujuannya, mematikan seluruh jentik-jentik nyamuk aedes aegypti secara serentak.

”Jadi,bukan pengasapan yang didahulukan. Lingkungannya dulu dibersihkan,baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan tidak tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak berdampak pada nyamuk aedes aegypti,” jelasnya juga.

Karena ancaman serius DBD itu, kata dia lagi,pihaknya telah menetapkan status siaga lantaran melihat trend peningkatan kasus yang terus terjadi. Termasuk mengantisipasi lonjakan penderita penyakit musiman tersebut, yang diperkirakan akan terus terjadi sampai April mendatang.

”Kita melihat dari trend kasus yah,data pasien yang sudah tervalidasi dari seluruh rumah sakit. Memang ada peningkatan dari periode waktu yang sama tahun lalu,”ujarnya lagi. Dezi juga mengaku sudah sosialisasi meminta seluruh rumah sakit swasta, puskesmas dan RSUD terus melaporkan bila ada kasus pasien DBD.

Sementara itu,Kepala Dinkes Kota Bekasi Tanti Rohaliwati mengatakan penetapan status siaga mengacu karena adanya indikasi peningkatan penderita DBD mulai awal hingga akhir Januari 2019. Dia pun terus mewaspadai kemungkinan bertambahnya kasus penderita penyakit endemik tersebut.

”Kami mulai waspada dan siaga untuk mengantisipasi penyakit DBD. Penyakit ini cukup berbahaya bila pasien tidak cepat ditangani,”katanya. Bahkan,kata dia juga,pihaknya telah memetakan tiga kecamatan di wilayahnya yang rawan dengan penyakit akibat gigitan nyamuk tersebut.

Penetapan tiga kecamatan itu mengacu pada kasus penderita DBD yang tinggi sepanjang 2018 yang mencapai 629 kasus. Ketiga wilayah itu adalah Kecamatan Bekasi Utara dengan total kasus 129 kasus,Kecamatan Bekasi Barat dengan penderita 107, dan Kecamatan Bekasi Timur dengan 69 kasus.

Adapun di periode awal tahun selama empat tahun terakhir, kasus DBD di Kota Bekasi cenderung naik turun. Periode Januari 2015 terjadi 50 kasus, Januari 2016 naik menjadi 196 kasus. Lalu Januari 2017 turun tercatat hanya 89 kasus dan Januari 2018 turun lagi menjadi 49 kasus. Tapi selama Januari 2019 jumlahnya naik jadi 75 kasus. ”Tahun ini,kita berusaha menurunkan wabah penyakit DBD,” ungkapnya.

Terpisah,jumlah kasus DBD di Kabupaten Bekasi hingga akhir Januari 2019 mencapai 16 kasus. Dari jumlah itu belum ada korban jiwa.”Selama Januari 2019 ini, kasus DBD yang kami temukan 16 kasus. Belum ada korban jiwa,”terang Kepala Dinkes Kabupaten Bekasi Sri Enny Mainiarti.

Enny menambahkan,kasus DBD juga bisa muncul dikarenakan masih kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya PHBS. Dinkes Kabupaten Bekasi, diakuinya juga,sudah melakukan upaya preventif pencegahan DBD dengan membuat surat edaran ke setiap kecamatan untuk mewaspadai penyakit tersebut.

Caranya dengan melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan 4M (Mengubur, Menutup,Menguras dan Memantau) tempat-tempat yang berpotensi menjadi sarang dan membuat nyamuk aedes aegypti berkembang biak.

Menanggapi meningkatnya kasus DBD,Pengamat Sosial dari Unisma 45 Bekasi Tatik Yuniarti mengatakan minimnya sosialisasi PHBS dari pemda menjadi faktor utama merebaknya penyakit musiman itu di tengah masyarakat.

Seperti sosialisasi antisipasi ancaman DBD hanya terdengar kalau penyakit itu sudah memakan banyak korban.

”Seharusnya saat belum terjadi lonjakan kasus DBD, sosialisasi hidup bersih sudah dilakukan pemda setempat,”ujarnya.

Bukan itu saja,dosen ilmu komunikasi itu juga mengaku, pertumbuhan penduduk Kota Bekasi yang terus meningkat jadi ancaman yang cukup serius. Karena bertambahnya penduduk,membuat pemukiman makin padat. ”Warga seenaknya membuat rumah tanpa perencanaan,”terangnya.

Dampaknya,sistim drainase dibuat seadanya hingga banyak yang tidak berfungsi. Akibatnya, jadi sasaran empuk nyamuk aedes aegypty bersarang dan berkembang biak. ”Karena itu perlu aksi bersih-bersih. Warga gotong royong membersihkan lingkungan setiap akhir pekan yang digalang aparatur RT,” tandasnya.(indopos)

You may also like...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.