Keprihatinan Turki Atas kekerasan Terhadap Muslim Di Sri Lanka

(Photo: turkinesia)
(Photo: turkinesia)

Turki menyuarakan keprihatinan pada hari Selasa atas tindakan kekerasan baru-baru ini yang menargetkan populasi Muslim di Sri Lanka karena kerusuhan anti-Muslim meletus kembali di perbukitan distrik pusat negara tersebut meskipun telah diberlakukan keadaan darurat.

Kementerian luar negeri Turki mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “pemerintah Sri Lanka akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan bahwa komunitas agama dan etnis yang berbeda terus hidup bersama dalam damai di seluruh negeri.”

Kementerian tersebut juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban yang tewas dalam kerusuhan tersebut.
Pada hari Selasa,Presiden Sri Lanka Maithripala Sirisena memberlakukan keadaan darurat di seluruh negeri sebagai upaya untuk memadamkan bentrokan komunal antara mayoritas umat Buddha Sinhala dan minoritas Muslim di distrik pusat.

Sirisena mengatakan tindakan tegas akan diambil terhadap pihak-pihak yang memicu komunalisme di pulau itu.
Beberapa laporan menunjukkan bahwa bentrokan antara kedua komunitas tersebut telah menyebabkan kerusakan luas pada properti milik Muslim di daerah Theldeniya di distrik Kandy.

Jurubicara polisi Ruwan Gunasekera mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa perselisihan pribadi adalah pemicu awal kekerasan tersebut; polisi kemudian memberlakukan jam malam untuk mengendalikan situasi.

Perselisihan tersebut telah mengakibatkan penyerangan terhadap seorang pria Sinhala, yang kemudian meninggal karena luka-lukanya beberapa hari setelah itu.
Namun kekerasan tersebut menyebabkan terjadinya serangkaian aksi lainnya, menurut saksi mata,setelah seorang pemuda Muslim Abdul Basith dibunuh oleh gerombolan massa pada hari Senin, setelah kepolisian memberlakukan jam malam dan semua sekolah pemerintah ditutup.

Pada hari Selasa, massa yang marah mulai menyerang rumah, tempat bisnis, dan masjid Muslim, saat kekerasan meletus di daerah tersebut membuat polisi menembakkan gas air mata dan peluru karet untuk mengendalikan massa, yang juga termasuk biksu, menurut keterangan pejabat polisi yang meminta untuk tidak dicantumkan namanya karena aturan pembatasan berbicara dengan media.
Gerombolan tersebut, yang berkumpul di depan kantor polisi,menuntut pembebasan beberapa orang yang ditangkap sehubungan dengan serangan hebat di daerah tersebut.

Sementara itu, lembaga think tank yang berbasis Colombo, Center for Policy Alternatives, dalam sebuah pernyataan mengklaim bahwa video-video yang menghasut kebencian komunal akan menyebar, termasuk konten informasi palsu.(turkinesia)
 

Tinggalkan Balasan