Ini Tarif Serangan Fajar Pilkades 154 Desa Di Kabupaten Bekasi 

Iluatrasi
Ilustrasi

Pesta demokrasi  di 154 desa di wilayah Kabupaten Bekasi berlangsung meriah, hingga saat penghitungan suara di masing-masing tempat pemungutan suara.

”Suasananya meriah dan ini memang menjadi penantian panjang warga desa,” ujar Iwan,34,pedagang bubur warga asli Desa Jejelen Jaya Kecamatan Tambun Utara.

Menurutnya,antusias warga terutama di perkampungan begitu semarak dan mereka masing-masing sudah berkelompok-kelompok danbahkan berkubu mendukung salah satu pasangan,makanya bisa dipastikan kerawanan keamanan pun menjadi perhtatian apara kepolisian.

Kegiatan Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) serentak di wilayah Kabupaten Bekasi yang  digelar 26 Agustus 2018  itu,akan berlangsung hingga dua atau tiga hari setelah hari H karena penghitungan suara dilakukan secara manual dan satu tempat, “Kalau jumlah pemilihnya ada puluhan ribu, bisa tiga hari,” ujar Mamak Suryadi, satu anggota panitia Pilkades Sumberjaya, Tambun Selatan.

Pengamatana Pos Kota di sejumlah desa di Kecamatan Tambun Selatan,suasana hiruk pikuk mewarnai  hari pencoblosan, beberapa calon kepala desa dan pendukungnya menyediakan sarana transportasi dari rumah warga ke lokasi Tempat Pemungutan Suara (TPS), “Iya terpaksa untuk warga perumahan perlu diberi enak,”ujar Malik, satu tim sukses pasangan nomor 3 di Desa Mekarsari, Tambun Selatan.

Di lokasi TPS parkiran dan bahkan tukang dagang sepertinya bereb ut tempat untuk mencari posisi enak. Beberapa tokoh masyarakat terlihat berada di sekitar panggung tempat calon Kades  bersama pasangannya dipajang.

Ada beberapa pintu masuk areal TPS dan itu berdasarkan diurutkan RW dimana calon pemilih tinggal, “Namanya ada jemputan dan milih ya datang saja,” ujar Suprihati, 35, ibu rumah tangga warga Puri Cendana,Sumberjaya.
Serangan Fajar
Aksi serangan fajar pun terjadi pada Pilkades tahun ini dan bahkan tahun-tahun sebelumnya. Entah kenapa dan ini bukan rahasia umum kalau ada calon Kades yang berani membayar satu suara dengan Rp 50 ribu.

“Saya nggak tahu katanya suruh nyoblos nomor yang diminta dan diberi uang Rp 50 ribu,” ujar Agung,pemilih di Desa Setiamekar,Tambun Selatan,sambil mengatakan dia bersama istrinya pun mendapat bagian.

Namun semua politik uang itu sepertinya menjadi bagian dari Pilkades di Bekasi dan tidak pernah menjadi sengketa Pilkades sepanjang tahun, “Makanya ini yang ditunggu-tunggu warga desa. Mereka yang jauh pun pulang untuk mencoblos,” ujar  Imam S, Camat Tambun Selatan. (saban/win) *poskota

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: