Dianggap Ganggu Estetika Mal,Pembangunan Ikon Kota Bekasi Di Hentikan Sementara

LANDMARK Kota Bekasi senilai Rp 15 miliar yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, atau di sekitar Gerbang Tol Bekasi Barat ini dihentikan pembangunannya. Foto diambil Senin (16/7/2018).
LANDMARK Kota Bekasi senilai Rp 15 miliar yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Bekasi Selatan, atau di sekitar Gerbang Tol Bekasi Barat ini dihentikan pembangunannya.(Photo: wartakota)

Penyebab mangkraknya pembangunan landmark atau ikon Kota Bekasi di gerbang tol Bekasi Barat,Kecamatan Bekasi Selatan,akhirnya terungkap.

Pihak Mal Mega Bekasi City disebut menolak keberadaan ramp atau lintasan jembatan penyeberangan orang (JPO) yang menjadi bagian dari ikon Kota Bekasi.

Dzikron,Kepala Bidang Penataan Ruang Dinas Tata Ruang Kota Bekasi, mengatakan, pemerintah telah meminta klarifikasi kepada PT Warna Warni selaku pihak swasta yang membangun ikon tersebut.

Saat pertemuan yang berlangsung pada pekan lalu,PT Warna Warni menyebut pengelola mal menolak lintasan JPO berada persis di bagian depan mal.

“Karena ada penolakan dari pihak mal, maka pembangunan yang dilakukan oleh pihak swasta terpaksa dihentikan,” kata Dzikron di Plaza Pemerintah Kota Bekasi, Kamis (26/7/2018).

Selain menjadi kebanggan warga Kota Bekasi, kata dia, pembangunan ikon yang terhubung dengan JPO ini akan memudahkan akses pejalan kaki.

Keberadaan JPO itu justru menghubungkan tiga titik yang dianggap strategis, yakni Metropolitan Mal Bekasi, Mega Bekasi City, dan Informa, pusat belanja bahan bangunan.

Dia mencatat,ada dua lintasan JPO yang akan menghubungkan ketiga titik tersebut.

Saat ini,pekerja baru menyelesaikan satu lintasan yang membentang dari Mal Metropolitan Bekasi ke Informa.

Sementara lintasan yang membentang dari Informa ke Mega Bekasi City belum dibangun karena adanya penolakan tersebut.

“Mereka menolak lintasan JPO ada di depan mal karena dianggap mengganggu estetika,” ujarnya. “Kalau tidak dibangun di sana, mau dibangun di mana lagi.”

Menurut dia,keberadaan ikon yang terintegrasi dengan JPO sangat dibutuhkan masyarakat.

.

Terutama bila jam sibuk pada pagi dan sore hari, lintasan orang yang menyeberang di ruas jalan itu sangat padat.

“Selain membahayakan pengguna jalan, menyebrang tanpa JPO berdampak pada kemacetan,” katanya.

Pembangunan ikon Kota Bekasi yang dibangun sejak 2015 lalu sempat mangkrak selama beberapa bulan.

Pelaksana proyek baru menyelesaikan inti landmark atau center poin yang memiliki tiga tingkatan dan lintasan jembatan.

“Biaya pembangunan ditanggung oleh pihak swasta dengan kompensasi iklan reklame di JPO selama 10 tahun tanpa dipungut retribusi,” katanya.

Asisten Daerah III Kota Bekasi, Dadang Hidayat, mengatakan, pemerintah telah menjalin nota kesepahaman atau MoU dengan pihak pengembang dalam pembangunan landmark.

Bila pengelola mal tetap keukeuh pada pendiriannya,dinas teknis akan melapor persoalan tersebut kepada kepala daerah.

“Setelah itu kami tunggu kebijakan yang akan dikeluarkan pimpinan pasca dilantik sebagai Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bekasi definitif,” kata Dadang.(wartakota)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: