Sel. Okt 15th, 2019

Carut Marut Sistem Magang Bagaikan Benang Kusut 

1 min read
benang kusut sistem kerja magang
Menaker Hanif Dhakiri
Menaker Hanif Dhakiri

Sistem kerja magang yang menjadi andalan pemerintah dalam mengurangi pengangguran kini seperti benang kusut. Pemagangan sering dijadikan modus oleh oknum pengusaha untuk mendapatkan buruh dengan upah murah dan tanpa jaminan sosial.

Selain itu, beberapa oknum Lembaga Penyalur Kerja (LPK) yang bermitra dengan pengusaha sering memalak para pencari kerja terutama lulusan baru dengan sejumlah nominal jika ingin ikut magang menggunalan jasa LPKnya.

Loading...

Di samping itu,ada pula masalah soal banyaknya perusahaan yang menggunakan beleid tersebut untuk mempekerjakan tenaga magang pada bagian penunjang produksi.

Ditambah lagi,kontrak kerja yang tak jelas dengan tidak adanya pengangkatan. Para pekerja magang umumnya menjalani masa kontrak antara 3 bulan hingga 1 tahun.

Menanggapi isu tersebut Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri mengatakan,pengawasan sistem pemagangan berada di bawah wewenang daerah lewat Dinas Ketenagakerjaan.

“Pengawasannya di provinsi. Masalah magang itu kan sudah di swasta,kita sudah ada aturannya,tinggal diikuti saja,” dalam keterangannya seperti dilansir Tirto,Jumat (22/3/2019).

Hanif menuturkan,pola-pola perekrutan pekerja magang sebenarnya diatur secara legal lewat Peraturan Menteri Ketenagakerjaan 36/2016 tentang Penyelenggaraan Magang di Dalam Negeri.

Aturan itu memuat secara eksplisit bahwa para pencari kerja bisa ikut program magang perusahaan di kawasan industri.

“Tapi itu lah,masalah pengawasan ini kan nanti bisa ditingkatkan. Kalau mau diskusi soal itu bisa panjang lebar bahasannya,” tutur Hanif.

Loading...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Loading...
Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.