​Jawara,Dahulu dan Sekarang

H.Damin Sada

H.Damin Sada

Oleh: Damin Sada

Dahulu,dimasyarakat pribumi terdapat tiga jenis tokoh masyarakat yang disegani, yaitu ulama,pejabat,dan jawara. Ulama karena ilmu agamanya,orang terdidik,dan tuntunan spiritual.Pejabat karena sebagai penguasa.Jawara karena maen pukul dan keberanian berkelahi.Ketiganya memiliki pengaruh dalam tatanan sosial masyarakat.Dan masingmasing memiliki masa militan”



Jawara secara sederhana memiliki arti sebagai orang yang jago dalam berkelahi, maen pukulan.Diambil dari kata juara. Orang yang menang dalam berkelahi, atau orang yang paling jago.Kalau dalam arti Kamus Besar Bahasa Indonesia, jawara itu artinya pendekar,jagoan.

Istilah Jawara banyak dipakai oleh orang Jakarta dan sekitarnya,serta Banten sejak jaman kolonial Belanda.Namun mulai meredup pasca perang kemerdekaan. 

Untuk di Bekasi sendiri, jenis Jawara ada tiga. Pertama,ada yang bekerja kepada tuan tanah/pejabat. Jawara seperti ini biasanya yang jadi tukang pukulnya para tuan tanah. Korbannya ya rakyat kecil. Kedua, jawara yang meresahkan siapa saja. Dia tidak perduli apakah dia tuan tanah, pemerintah,atau rakyat kecil. 
Semua diembat.Dan yang ketiga adalah jenis jawara yang membela masyarakat, membela ulama,membela yang benar. 

Tapi itu dahulu.Bagaimana dengan sekarang?




Ingat..sejarah itu berulang

Saat ini pun saya melihat jawara di Bekasi ada tiga jenis.Kita bisa lihat banyak yang ngakunya jawara tapi buat nakutin rakyat kecil, meras sana-sini.Ada juga yang ngakunya jawara tapi beraninya sama rakyat kecil dan tidak takut sama ulama. Tinggal kita mau pilih yang mana? 

Terusirnya penjajah dari bumi Bekasi karena kolaborasi antara jawara, ulama, dan pejabat. Antara Haji Djole dan Camat Nata dari jawara,dengan KH Noer Ali dan KH Abu Bakar dari ulama,serta Agus Sirad dari pejabat pemerintah.Mereka satu suara dan satu aksi,yaitu mengusir penjajah.
Kolaborasi ini harus terjadi lagi di jaman sekarang.Ketiganya harus saling dukung.  

   
Untuk orang Bekasi yang jadi jawara, harusnya lebih memihak rakyat kecil, memihak ulama. Jangan mau diadu domba oleh pihak-pihak yang hanya merugikan orang Bekasi itu sendiri.

Bekasi memang tidak lagi dijajah secara fisik,tapi sesungguhnya kita sedang dijajah secara mental. Coba lihat pabrik-pabrik yang ngampar di Bekasi, punya siapa? Karyawannya yang orang Bekasi berapa orang?

Kita bukannya anti pendatang. Tidak. Tapi kita minta agar orang Bekasi tidak menjadi asing di tanahnya sendiri,hanya jadi penonton saja. Siapa yang perlu menyuarakan? Tidak bisa hanya jawara sendirian saja.Ulama dan pejabat kita juga harus dukung. Dan yang jadi jawara jangan malah jadi antek para kapital yang hanya merugikan rakyatnya sendiri.

 Sudah tanahnya dibeli, pun orangnya tidak bisa bekerja di perusahaannya.Nah, jawara ini yang perlu turun tangan.

Jadi jawara jaman sekarang juga jangan hanya bermodal maen pukul sama nyali yang gede doang,tapi juga harus pakai otak. Jawara harus pintar,harus ngerti. 

Biar tidak dibego-begoin orang yang berduit dan berkuasa.Kalau memang perlu, jawara juga harus jadi penguasa.

*Disampaikan pada acara diskusi publik Peran dan Kiprah Jawara, Dahulu dan Masa Kini pada hari Jumat, 23 Maret 2018 di Gedung Juang. Diselenggarakan oleh Komunitas Historika Bekasi (KHB).

You may also like...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.